Sobat, Berbagilah Saham dengan Karyawan Anda

Sobat, Berbagilah Saham dengan Karyawan Anda

You can’t GIVE away What you don’t HAVE

Sebuah ajakan yang mungkin akan langsung Anda tolak seketika tanpa perlu berpikir panjang. Tentu saja hal itu merupakan sebuah reflek natural dan alamiah. Dan tentu saja, tidak ada yang salah dengan reflek tersebut.

Mungkin sudah sering terdengar dan menjadi hal yang biasa tak kala kita mendengar kata sedekah, bantuan, pertolongan, atau apapun namanya. Memberikan sesuatu untuk meringankan beban orang lain dengan berbagai bentuk, bisa berupa uang, barang, jasa, atau pun juga dengan doa.

Apa bedanya dengan ajakan untuk berbagi saham perusahaan Anda kepada karyawan sendiri? Tentu saja beda, itu mungkin pernyataan yang bisa Anda sampaikan secara spontan.

Bagaimana saya bisa memberikan saham perusahaan saya kepada karyawan? Ajakan Anda benar-benar menyesatkan! Bisa jadi itu adalah respon Anda yang kesekian kalinya bukan?

Bagaimana kalau karyawan yang telah saya beri saham, tiba-tiba keluar dari perusahaan. Bukankah dia masih memegang hak atas kepemilikan saham? Nah, itu pertanyaan Anda berikutnya bukan?

Anda benar-benar gila mengajak saya untuk memberikan saham kepada orang yang tidak jelas kontribusinya kepada perusahaan!!! Yups, memang dibutuhkan orang-orang gila untuk bisa melewati suatu zaman dimana kegilaan sudah benar-benar merasuk di setiap sendi kehidupan.

Tidak mungkin jika saya waras akan menyampaikan ajakan demikian.

Sobat, apakah sekiranya kita meninggal, lantas kita akan membawa tumpukan batangan emas yang susah payah sudah kita kumpulkan selama puluhan tahun? Tentu saja tidak bukan. Belum pernah ada ceritanya, hal itu terjadi. Faktanya, sampai detik ini, tak ada kabar dari orang -orang yang telah meninggalkan kita bercerita kalau mereka melakukan jual beli emas batangan di alam kubur. Mungkin mereka bisa jadi lagi asyik melakukan transaksi-transaksi yang seperti kita bayangkan hingga lupa mengirim kabar kepada kita yang masih hidup berpeluh masalah di dunia.

Lantas, untuk apa ajakan untuk berbagi saham kepada karyawan? Yah, tentu saja untuk kebaikan kita. Jangan katakan kebaikan ‘gundullmu’ lho yah, serius, ini memang demi kebaikan kita bersama. Lupakan sejenak apa yang pernah ditulis oleh tokoh legendaris Robert T Kiyosaki (RTK) yang pernah memunculkan apa yang disebut dengan Cashflow Quadrant.

Dia memang telah melakukan pengaplingan terkait dengan aliran uang. Ada yang dimasukkan ke golongan Employee, Self-Employee, Business Owner, dan Investor.

Menurut dia, derajat orang yang paling rendah adalah Employee alias karyawan. Seseorang yang mempunyai pekerjaan dan menukarkan waktu dan tenaga dengan uang. Ini persis seperti karyawan Anda yang bekerja untuk Anda.

Selanjutnya Self-Employee, seseorang yang memiliki pekerjaan dengan dia sendiri sebagai pemain intinya. Tak kala ada halangan, maka rejekinyapun ikut terhalang. Dan ini juga mungkin dialami oleh karyawan-karyawan Anda yang telah mengundurkan diri dan pada akhirnya mereka mencari penghasilan dari kompetensi yang dulunya pernah diberikan oleh perusahaan Anda. Bukankah dulu, Anda sering mengirim orang tersebut untuk mengikuti pelatihan dengan harga yang tidak murah?

Business Owner, nah… Ini pernah Anda alami saat setelah lebaran, lebih dari separo karyawan dan manajer terbaik Anda mengundurkan diri secara berjamaah dan tiba-tiba mereka membangun sebuah perusahaan yang persis dengan perusahaan Anda ini. Mereka merekrut banyak orang pekerja hingga membuat Anda mengalami panas dingin seperti terkena demam berdarah.

Saya tidak menakut-nakuti Sobat. Sekedar berimajinasi dan menerawang saja. Toh tak ada yang salah dengan imajinasi maupun penerawangan tersebut. Selama berimajinasi tidak dipungut biaya, selama itu pula saya akan terus menerawang banyak pikiran dan kejadian di belahan bumi sana.

Sebagai orang yang berpendidikan, kita sering dijejali dengan banyak paham dan pemikiran yang aneh-aneh oleh para senior dan mentor. Salah satunya adalah “Cobalah berpikir out-of-box” nanti kalian akan menemukan sesuatu yang “Woo…”. Lha, begitu saya mengajak untuk berbagi saham, kenapa Anda tolak? Bukankah itu termasuk agak out-of-box?

Kalau terpaksa kembali melirik Cashflow Quadrant-nya si RTK, maka sejatinya adalah menarik seseorang yang masih berada di kuadran I menuju ke IV secara seketika.

Nah, ini sejatinya tidak perlu membutuhkan pemahaman yang mendalam. Tak butuh seorang filosof tingkat dunia, tak usah pula membangunkan Aristoteles and the gang untuk memberikan pemahaman tentang lompatan kuantum ini. Kalaupun Socrates diberi kesempatan hidup 5 menit saja, dia pasti tak akan ragu untuk mengiyakan ajakan tersebut. Bisa jadi kuliah dia 5 menit itu tak akan selesai dijabarkan oleh para profesor abad modern dalam waktu 50 tahun. Pemikiran Copernicus yang menyebutkan bahwa matahari adalah pusat dari alam semesta dianggap gila pada jamannya dulu. Hemm… Sekarangpun juga masih, tentu saja bagi penganut paham bumi datar tentunya.

Dibutuhkan perenungan seperti para filosof untuk memahami ajakan tersebut. Mungkin…. dan bisa jadi Anda akan menemukan sebuah benang merah yang menjadi jembatan lompatan kuantum tersebut, serta akhirnya Anda bisa berkata, “yesssss….”. Faktanya tak mudah Sobat untuk merealisasikannya.

Kalaupun toh Anda setuju, belum tentu juga orang-orang yang berada di meja personalia, Human Resource, atau bahkan Human Capital akan setuju dan serta mertamendukung Anda. Belum lagi orang-orang yang berkedudukan sebagai legal corporate tentu saja akan mengambil segembok peraturan atau apapun untuk menghalangi niatan Anda tersebut.

Akhirnya Anda merasa sendirian dan bisa jadi merasa ‘gila’ pula. Nah, benang merah yang Anda lihat saat proses perenungan itulah yang mesti Anda sampaikan dan didiskusikan dengan semua ‘pejabat’ di perusahaan Anda. Ceritakan dan sampaikan inspirasi terkait dengan lompatan kuantum tersebut. Saya tidak akan menjelaskan benang merah yang saya lihat, karena belum tentu sesuai dengan apa yang Anda lihat. Yan jelas, saya melihat sebuah keindahan tak kala hal itu diterapkan.

Bukankah Sir Isaac Newton melihat sebuah keindahan tak kala sebuah apel jatuh dari pohon dan menimpa kepalanya? Dengan peristiwa sesederhana itu pula, dia lantas merumuskan hukum universal tentang grativasi. Ada banyak versi terkait cerita tentang apel tersebut, yang jelas, apel yang jatuh itu lantas dimakan sedikit serta akhirnya ditemukan oleh alm Steve Jobs untuk dijadikan bagian dari visual identity-nya Apple.

Mengalokasikan saham berarti banyak hal yang perlu Anda pikirkan dan siapkan. Memang benar, hal tersebut tidak berarti serta merta, simsalabim, atau seperti kisahnya pembangunan candi sewu.

Secara singkat, setidaknya dibutuhkan cukup banyak persiapan, mulai mindset shift bagi para karyawan termasuk pihak manajemen, pemahaman tentang aspek legalitas maupun peraturan-peraturan yang terkait dengan bisnis dan perusahaan, pelatihan terkait tataran softskill dan hardskill, Human Empowerment, dan segudang aspek personality yang lainnya.

Pada saat karyawan memiliki saham di perusahaan, maka mereka hakikatnya adalah partner Anda juga bukan? Mereka akan bekerja sama seperti Anda bekerja, bukan sekedar semangat, namun akan memiliki cara memandang masa depan yang sama pula.

Anda akan memiliki banyak pandangan yang menuju satu titik. Pandangan yang bukan berasal dari satu atau dua orang saja, namun bisa puluhan, ratusan, hingga ribuan pandangan yang berasal dari karyawan Anda.

Anda bukan sekedar membuka lapangan kerja saja, namun membuka pandangan orang-orang yang mungkin sebelumnya buta untuk melihat masa depan. Membuka dan menarik tangan orang-orang yang turut berjasa membangun kerjaan bisnis Anda. Anda ikut berbagi atas benih-benih yang selalu akan tumbuh membesar hingga tak tahu sampai di mana akan berhenti. Menjulang tinggi menggapai langit tak berujung sampai anak cucu beserta keturunannya kelak.

Perusahaan yang akan dimiliki oleh banyak orang dan diteruskan oleh generasi-generasi unggul perusahaan. Perusahaan yang mampu mengikuti ajakan ini, bisa dipastikan akan mempunyai sebuah sistem yang terlalu kuat untuk goyah apalagi roboh. Perusahaan yang tidak mudah tergilas oleh perkembangan zaman.

Masih banyak hal terkait benang merah yang terlihat, namun tak banyak yang bisa disampaikan, sampai suatu saat kita berjumpa.

Kapan Anda siap akan mengalokasikan saham kepada setiap karyawan Anda? (DE)