Leadership Bukan LeaderS(**)t

Leadership Bukan LeaderS(**)t

Apakah Anda pernah ditinggalkan orang-orang terbaik dalam perusahaan Anda? Apakah Anda pernah melakukan instropeksi atau katakanlah semacam renungan mengapa mereka meninggalkan Anda bahkan hampir secara bersamaan?

Bisa jadi bulan Juli atau Agustus ini merupakan ujian terberat bagi Anda saat membaca sebuah surat yang diletakkan di meja kerja Anda. Sebuah surat yang berisikan permohonan atau mungkin pemberitahuan pengunduran diri karyawan. Bukan sekedar karyawan biasa, namun karyawan terbaik Anda. Bukan pula satu orang saja, bisa jadi beberapa orang yang menjadi tulang punggung perusahaa Anda.

Satu hingga tiga bulan sesudah lebaran merupakan masa yang cukup krusial bagi sebagian pengusaha. Hal ini terkait dengan fenomena pengunduran diri para karyawan. Berbagai alasan dan sebab mereka sampaikan lewat surat permohonan atau pemberitahuan pengunduran diri tersebut, namun ada alasan yang mungkin tak tertuliskan dalam surat tersebut, yaitu mengenai kepemimpinan Anda. Cukup ironis bukan!

Bukankah orang-orang terbaik yang Anda miiki tersebut dulunya hadir karena atas persetujuan Anda pula? Bisa jadi Andalah orang pertama yang jatuh cinta saat melakukan wawancara dengan mereka. Namun semuanya berakhir tak kala gaya kepemimpinan Anda tidak sesuai dengan apa yang mereka idamkan.

Faktor kepemimpinan ini masih mendominasi alasan seorang karyawan mengundurkan diri dari perusahaan, disamping faktor-faktor lain seperti ekonomi, ketidaksesuaian kompetensi, bosan, tantangan, dan lain sebagainya.

“Yen anak buah TELO, sejatinya bos’e sing luwih TELO. Yen anak buah’e PINTER, sing luwih PINTER iku atasan’e”

Saya teringat sebuah ungkapan yang sering disampaikan oleh seorang sahabat sekaligus inspirator saya dalam bahasa Jawa, “Yen anak buah TELO, sejatinya bos’e sing luwih TELO. Yen anak buah’e PINTER, sing luwih PINTER iku atasan’e”.

Terjemahan bebas versi Bahasa Indonesianya, kira-kira seperti ini, “Kalau anak buah seperti TELO (ndablek, susah diatur, bodoh), sejatinya atasannya yang lebih TELO. Jika anak buahnya pinter, yang lebih pinter itu atasannya”.

Ungkapan yang to the point tanpa basa basi. Kebetulan sahabat saya orangnya memang begitu adanya, langsung ke pokok alias inti permasalahan. Sebuah nasehat jalanan yang memang benar apa adanya, persis seperti ungkapan para jendral kstaria, tak ada pasukan yang salah. Yang salah adalah komandannya!!!

Bukankah Anda ingin dikenang sebagai atasan yang pinter dan atribut-atribut penghormatan lainnya? Tak ada salahnya untuk sedikit meluangkan waktu mempelajari kembali apa itu LEADERSHIP.

LEADERSHIP

Merupakan kemampuan seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain agar mampu untuk bekerja sama dalam rangka mencapai sebuah tujuan. Banyak definisi terkait dengan kepemimpinan ini, yang pasti berujung kepada kemampuan untuk mempengaruhi.

Kepemimpinan ini bisa diterapkan bukan hanya untuk kepentingan di perusahaan saja, namun bisa mencakup ke banyak organisasi atau perkumpulan lainnya. Pada hakekatnya, kita adalah mahkluk sosial yang tidak bias hidup sendirian.

Puluhan teori tentang kepemimpinan yang bisa dipelajari beserta panduan implementasinya, tentu saja menyesuaikan dengan kondisi dan karakteristik organisasi yang Anda terapkan. Tulisan ini mengulas sedikit tentang aspek kepemimpinan di perusahaan yang saya terapkan di dalam perusahaan yang saya kelola.

Ada beberapa prinsip dasar yang bisa dijadikan renungan terkait dengan gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam perusahaan, prinsip tersebut antara lain:

  • Memahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna sebagai entitas pribadi, bukan sebagai mahkluk ciptaan Tuhan. Kalau dipandang sebagai sebuah mahkluk, maka manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Tak ada yang melebihi karakter dan sifat manusia.
  • Karyawan merupakan aset terbesar perusahaan, melebihi aset tangible (berbentuk) lainnya.
  • Materi bukanlah segala-galanya yang menjadikan motivasi seseorang melakukan untuk melakukan sesuatu.
  • Karyawan adalah seorang manusia yang mempunyai limitasi ataupun keterbatasan.

Prinsip tersebut mudah dipahami tanpa perlu mengeluarkan energi yang berlebihan. Sesuatu yang terlalu mendasar dan sederhana. Begitulah yang dimaksud dengan prinsip, tidak rumit dan sulit.

Implikasi dari prinsip tersebut lantas melahirkan lima kaidah ataupun pedoman yang mesti dipahami dan dilakukan oleh seorang pemimpin, antara lain:

  • Memberikan penghargaan (reward) kepada orang-orang yang dipimpin. Serendah-rendahnya penghargaan adala ucapan terima kasih. Sedangkan setinggi-tingginya penghargaan adalah merekomendasikan bawahan untuk menggantikan posisinya sebagai atasan.
  • Memberikan hukuman (punishment) secara adil dan bijak. Serendahrendahnya hukuman adalah teguran yang bernasehat. Setinggi-tingginya hukuman adalah memberikan kesempatan karyawan untuk berkarir di perusahaan lain.
  • Memberikan pelajaran atau pengetahuan terkait dengan kompentesi yang menjadi amanah karyawan. Jadikan karyawan sebagai orang yang mempunyai skil dan kompetensi luar biasa yang akan membantu menjadikan perusahaan lebih maju dan sukses. Berikanlah pelatihan yang terbaik kepada karyawan.
  • Memberikan motivasi dan dorongan secara rutin kepada setiap anggota tim agar tetap mempunyai semangat dan performa tinggi. Jadilah sebagai seorang teman, sahabat, kakak, ayah, ibu, dan saudara bagi setiap insan dalam tim.
  • Jadilah sebagai sumber inspirasi bagi seluruh karyawan. Tak perlu dan tak butuh sosok orang lain selain diri Anda sendiri. Anda adalah orang yang bisa dan pantas dijadikan inspirator. Mereka ingin menjadi seperti Anda.

VISI

Leadership adalah masalah bagaimanamengelola sebuah visi dalam diri manusia. Kepemimpinan membutuhkan arahan, memerlukan sebuah visi yang akan menggerakan setiap sendi aktivitas dalam perusahaan. Kepemimpinan tak terkait sama sekali dengan bagaimana cara memberikan perintah.

Kepemimpinan adalah sebuah perkara bagaimana mempengaruhi dan mampu menggerakan orang-orang dalam perusahaan untuk menggapai sebuah impian yang terbalut dalam ungkapan visi perusahaan.

Seorang pemimpin haruslah mampu memahami arti dan makna visi, apalagi pemimpin sebuah organisasi bisnis. Apakah perusahaan itu sendiri memiliki visi yang jelas? Pertanyaan ini mesti dijawab terlebih dahulu sebelum menanyakan apakah pemimpin tersebut memahami dan mengerti visi organisasi.

Perusahaan yang baik sudah seharusnya menetapkan visi sebelum perusahaan tersebut didirikan. Untuk memahami apakah visi itu, bisa dipelajari tentang Business Motivation Model (BMM) yangterdapat di artikel lain pada RetGoo INSIGHT edisi bulan Agustus 2017 ini.

Jika visi perusahaan telah terdefinisikan dengan baik, selanjutnya adalah tugas pemimpin perusahaan untuk menerjemahkan visi ke dalam langkah aksi nyata dan menggerakan semua potensi yang dimiliki oleh perusahaan.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin dapat membangun sebuah tim, melatih, memotivasi, bahkan menginspirasi seluruh anggotanya jika dia sendiri tidak tahu arah kemana harus dituju bahkan diraih!

Mengarahkan dan menggerakkan seluruh anggota tim berarti mengajak mereka untuk berjalan menuju satu titik tertentu, bukan sekedar berjalan tak tentu arah. Sebuah pergerakan yang dilandasi oleh keyakinan bahwa titik tujuan akan dicapai dan diraih dengan segala daya dan upaya.

Terkait dengan visi ini, maka seorang pemimpin haruslah mampu memahami pentingnya visi. Pemahaman ini meliputi:

  • Kemampuan untuk menciptakan visi yang dapat menginspirasi masa depan, bukan sekedar ala kadarnya saja. Apakah visi yang dibuat dapat menjadikan kehidupan manusia akan lebih baik ataukah sekedar dilandasi oleh motivasi uang saja?
  • Kemampuan untuk memotivitasi dan menginspirasi orang-orang yang berada di sekitarnya.
  • Kemampuan untuk mewujudkan visi agar dapat tercapai.
  • Kemampuan untuk membangun dan melatih tim sehingga lebih efektif dan efisien dalam rangka merealisasikan visi perusahaan.

Pemimpin yang baik benar-benar memahami visi dan mentransfer ke anggota tim sehingga mereka mempunyai pandangan yang sama, tak ada perbedaan dalam merepresentasikan sebuah impian dan cita-cita perusahaan.

Anggota tim pun wajib dilibatkan dalam pemaknaan visi, bukan sekedar menjadi tanggung jawab seorang pemimpin saja. Kolaborasi antara pemimpin dan anggota tim akan menjadikan visi menjadi kenyataan,

Jenis LEADERSHIP

Terdapat beberapa jenis kepemimpinan yang bisa dijelaskan, antara lain:

  • Bureucratic leadership, gaya kepemimpinan ini sudah cukup lama dianut dan termasuk yang tertua diterapkan oleh manusia. Kepemimpinan jenis ini menekankan kepada ketegasan dan kekakuan dalam menjalankan aturan.
  • Charismatic Leadership, menekankan kepada sifat dan karakter tertentu yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang mampu menggerakkan orangorang dalam pengaruhnya. Diyakini mempunyai kekuatan supernatural, wibawa, maupun sifat-sifat istimewa lainnya.
  • Servant Leadership, seorang pemimpin yang bersedia dan mampu melayani anggota tim agar bisa mandiri. Mempunyai prinsip dan nilai-nilai yang tumbuh dari bawah, memberikan motivasi, contoh, serta dapat menginspirasi dengan perbuatan dan tindakan.
  • Transactional Leadership, merupakan gaya kepemimpinan dengan orientasi hasil melalui mekanisme penghargaan dan hukuman. Model kepemimpinan seperti ini untuk menarik perhatian anggota agar mengikuti apa yang diinginkan oleh pemimpin.

Jenis kepemimpinan apa yang selama ini Anda terapkan dalam menjalanan perusahaan? Apakah hanya satu jenis, ataukah kombinasi dari beberapa gaya kepemimpinan?

Pemiihan jenis kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh karakteristik organsisasi yang dipimpin. Tidak mungkin menerapkan Transactional Leadership untuk memimpin sebuah organisasi militer atau birokasi pemerintahan.

Untuk organisasi bisnis cenderung menggunakan gaya kepemimpinan transaksional dan Servant Leadership. Namun tidak berarti jenis kepemimpinan yang lain tidak boleh diterapkan.

Idealnya adalah dengan mengombinasikan keempat jenis kepemimpinan dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang ada. Hal ini dimaksudkan agar bisa lebih flesibel serta adaptif terhadap setiap perubahan yang terjadi di lingkungan perusahaan baik karena pengaruh internal maupun eksternal.

Kesalahan Umum terkait LEADERSHIP dan Manajemen

Berikut dijelaskan kesalahan-kesalahan umum terkait kepemimpinan dan manajemen, antara lain:

  • Tidak memberikan umpan balik, saran, dan pendapat kepada anggota tim guna meningkatkan performa individu, departemen, dan organisasi.
  • Tidak ada waktu untuk melakukan interaksi dengan anggota tim. 
  • Lepas tangan terhadap permasalahan yang dialami oleh anggota tim serta tidak ada tanggung jawab yang jelas atas permasalahan yang terjadi.
  • Menciptakan hubungan yang terlalu “friendly” kepada anggota tim sehingga dapat mempengaruhi kualitas keputusan yang dibuat.
  • Gagal dalam memahami makna dari tujuan sebuah target yang telah ditetapkan.
  • Salah dalam memaknai arti motivasi kepada anggota tim.
  • Terlalu tergesa-gesa dalam merekrut anggota tim baru tanpa diikuti dengan manajemen pelatihan yang baik.
  • Tidak peduli dengan kondisi anggota tim yang berpotensi menimbulkan kekacauan serta masalah.
  • Tidak mampu melakukan pendelegasian tugas yang baik, tak cakap dalam memberikan pengarahan eksekusi, tidak mempunyai metodologi evaluasi, serta tidak bisa mengambil sebuah keputusan strategis.
  • Tidak memahami peranan seorang pemimpin.

Leader vs Boss

Leader vs boss, Anda lebih memilih mana? Yah, walaupun sama-sama menjadi pemimpin, namun keduanya memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Leader akan memimpin pasukan dengan keterlibatan langsung, memberikan semua yang dimilikinya untuk kemajuan tim, mengarahkan dan menjadikan timnya sebagai kekuatan yang dapat menakutkan bagi para kompetitor.

Sedangkan boss, seorang pemimpin yang sekedar memberi perintah tanpa mau terlibat dalam jerih payah yang dilakukan oleh anggota tim. Seseorang yang menggunakan kekuasaannya untuk menundukkan dan menaklukkan anggota timnya. Memeras serta memanfaatkan potensi anggota tim hanya sekedar untuk kepentingannya sendiri.

Banyak sekali meme baik berupa ilustrasi foto maupun video yang mendiskripsikan perbedaan di antara keduanya. Era perbudakan sudah bukan zamannya sekarang, sebuah peninggalan zaman dahulu kala yang sepertinya tidak perlu dilestarikan lagi. Karakteristik boss lebih cenderung mendekati sisa-sisa sifat perbudakan. Mungkin bisa jadi sekarang masih ada pemimpin yang menggunakan pendekatan seperti diktator walaupun dengan wajah yang telah berubah. Namun hakikatnya adalah masih tetap sama, menjadi boss.

“Anda mungkin seorang boss yang dapat memberi perintah, namun jangan
berharap akan terjadi perubahan.”

Bisa dipastikan pendekatan boss ini tidak akan dapat memperpanjang usia bisnis. Yang ada adalah sebuah keterpaksaan dan kesemuan dalam perusahaan.

Level Leadership

Terdapat lima tingkatan kepemimpinan yang perlu Anda ketahui agar memiliki perspektif yang cukup agar dapat memahami strategi pengembangan kepemimpinan Anda, yaitu:

  • Level 1 – Kemampuan Individu. Pada level ini, kemampuan individual Anda secara langsung akan memberikan dampak yang nyata kepada pekerjaan tim. Anda terlibat secara langsung bahkan pada hal-hal yang bersifat teknis.
  • Level 2 – Kontribusi kepada anggota tim. Pada level ini, pengetahuan dan skil Anda cukup membantu pekerjaan tim. Anda bisa menggunakan kompetensi yang dimiliki oleh tim Anda untuk menyelesaikan tugas tim.
  • Level 3 – Manajer yang kompeten. Anda dapat mengatur sebuah grup untuk mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien.
  • Level 4 – Leader yang efektif. Pada level ini Anda berada pada posisi paling atas di sebuah organisasi. Anda mampu membangkitkan semua potensi yang dimiliki oleh semua orang di semua departemen untuk mencapai visi organisasi.
  • Level 5 – Great Leader, sebuah pencapaian kepemimpinan tertinggi. Anda sudah pasti mempunyai semua kemampuan yang dimiliki di keempat level di bawahnya. Level ini mensyaratkan seorang pemimpin mempunyai sifat humanisme, kerendahan hati, bijak, serta mampu menginspirasi orang-orang yang berada di luar sistem.

The Great Leader

Ada beberapa tips yang dapat dilakukan agar mencapai kepemimpinan level Great Leader, antara lain:

  • Mengembangkan kerendahhatian. Hal ini akan menuntun untuk memahami eksistensi tentang manusia. Mampu mengendalikan aspek emosional, belajar bersimpati dan berempati, menghancurkan arogansi, meruntuhkan egoisme, serta pada akhirnya mampu untuk berkata, “Aku bukanlah siapa-siapa”.
  • Meminta bantuan. Hal ini menandakan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Janganlah merasa gensi atau malu untuk meminta bantuan orang lain, bahkan kepada anggota tim sendiri. Meminta pertolongan bukanlah sesuatu yang menghinakan atau merendahkan diri.
  • Mengambil tanggung jawab. Tak ada kesalahan yang dibuat oleh anggota tim. Kesalahan pun pada akhirnya akan menjadi tanggung jawab pemimpin. Anda mesti menerima konsekuensi atas sebuah masalah, jangan melemparkan kepada orang lain.
  • Temukan orang yang tepat. Seorang partner yang akan membantu mewujudkan visi organisasi, seseorang yang akan mempercepat akselerasi, memperkuat makna kolaborasi, dan bukan orang yang akan mendestruksi.
  • Memimpin dengan tulus dan semangat. Anggota tim akan senantiasa memperhatikan dan juga mengawasi bagaimana pemimpin mereka bertindak. Jangan pernah memainkan perasaan dan ketulusan anggota tim. Ketulusan hanya layak dibalas dengan ketulusan pula. Jangan pernah memberi perintah yang Anda sendiri tak mampu menyelesaikannya. Sekali anggota tim percaya kepada Anda, dia akan memberikan segalanya kepada Anda. Sebaliknya pula, jangan pernah merusak kepercayaannya.

Bagaimana dengan kepemimpinan yang Anda terapkan? (DE)