Data-Centric vs Process-Centric, Pilih Mana?

Data-Centric vs Process-Centric, Pilih Mana?

Perkembangan manajemen dan teknologi informasi ikut mempengaruhi bagaimana cara menjalankan tata kelola perusahaan. Jika dirunut dari sejarahnya, maka ada sebuah garis pemisah yang jelas antara masa lalu dan sekarang.

Tahun 2005 menjadi sebuah tonggak di mana tata kelola perusahaan benar-benar dijalankan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Saat ini mengelola sebuah bisnis sudah seharusnya menggunakan pendekatan kolaborasi antara People, Process, dan Technology.

Apakah Anda masih berkutattiap hari dengan pertanyaan seputar data dan laporan operasional perusahaan kepada tim manajemen? Sudahkah Anda memikirkan tentang kinerja, efisiensi, remunerasi, dan performa performa?

Bisnis dijalankan dengan menggunakan sebuah aturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Aktivitas yang terjadi di perusahaan dilakukan oleh para pemangku kepentingan terkait. Terdapat hubungan erat antara People dan Process.

Data-Centric

Perusahaan yang masih berorientasi kepada data pada umumnya belum mempunyai kebijakan manajemen yang cukup baik. Walaupun sistem sudah terbangun, namun implementasi kerangka kerjanya bisa dikatakan tidak berjalan dengan sempurna. Fenomena ini tidak berkaitan dengan skala usaha, namun lebih kepada mindset, policy, dan tata kelola perusahaan. Perusahaan skala besar dengan jumlah karyawan ratusan bahkan ribuan pun juga masih banyak yang masih dipusingkan dengan data.

Bagaimana mungkin perusahaan akan memikirkan tentang remunerasi atau katakanlah bonus terhadap pencapaian kinerja karyawan, jika perusahaan tak aware terhadap apa yang dikerjakan oleh karyawan. Kepedulian perusahaan terhadap kinerja karyawan perlu dibentuk secara utuh. Secara umum, kinerja perusahaa dipengaruhi oleh kinerja departemen atau fungsional. Sedangkan kinerja departemen ditentukan oleh kinerja personal karyawan itu sendiri. Penilaian kinerja karyawan bukan sekedar dilihat dari pencapaian hasil semata, namun lebih dari itu.

Sudah banyak teori tentang Key Performance Indicators (KPIs) yangdisampaikan oleh praktisi manajemen untuk mengukur performa karyawan hingga ke perusahaan. Penilaian berbasis hasil tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap aspek pembelajaran perusahaan.

Jika penilaian atas pencapaian dijadikan ukuran, maka kemungkinan besar akan banyak aktivitas-aktivitas yang tak terkondisikan terjadi di perusahaan. Yang penting hasilnya tercapai, begitu kira-kira pemikiran sederhana di kalangan karyawan pada perusahaan yang menerapkan kebijakan hasil sebagai acuan sebuah keberhasilan. Jika kondisi ini dibiarkan secara terus menerus, tidak mungkin akan menyebabkan kekacauan dan bom waktu di kemudian hari. Peranan seseorang atau personal tertentu dalam sebuah fungsi akan terlalu mendominasi dalam jalannya operasional.

Dilihat dari kacamata manajemen, dominasi orang dibandingkan dengan sistem dalam pelaksanaan operasional perusahaan sudah sangat tidak sehat. Perusahaan atau bisnis tidak boleh tergantung pada sosok orang. Begitu terjadi sesuatu pada orang tersebut, maka akan menyebabkan bencana atau malapetaka bagi perusahaan tersebut. Penyakit ini tidak hanya menghinggapi perusahaan skala kecil saja, bahkan tak jarang terjadi pula pada perusahaan skala cukup besar. Apalagi jika pengelolaan perusahaan masih menggunakan konsep pendekatan ‘kekeluargaan’, hal ini terlalu beresiko.

Process-Centric

Pendekatan Process-Centric yang diterapkan oleh perusahaan mengandung arti bahwa proses bisnis menjadi titik penggerak semua aktivitas operasional perusahaan. Kebijakan strategis pengelolaan perusahaan didasarkan atas bagaimana proses bisnis dibuat.

Yang perlu dipahami bahwa proses bisnis tidak mesti hanya melibatkan satu fungsional atau departemen saja, namun justru mayoritas menggunakan pendekatan cross-functional. Hal ini berarti bahwa proses bisnis akan melibatkan antar bagian atau departemen.

A – Era Data dan Process-Centric dalam perkembangan Manajemen dan Teknologi Informasi

Dengan menggunakan konsep cross-functional ini maka diharapkan perusahaan dapat mengirimkan produk atau solusi secara cepat kepada pelanggan. Business Value tidak dapat dihasilkan oleh satu orang saja, namun diperoleh dari hasil kolaborasi antar departemen dalam sebuah perusahaan.

Perusahaan yang peduli dengan proses bisnis tentu akan melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Perbaikan ini dilakukan guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi pekerjaan. Memperbaiki dan mengatur proses bisnis akan menjadi lebih mudah ketika perusahaan telah mempersiapkan semua hal mulai dari perencanaan hingga eksekusi.

Bagaimana menjadikan Perusahaan berbasis Process-Centric?

Pengelolaan operasional perusahaan dengan konsep process-centric menjadi keinginan banyak stake-holder. Untukmencapaihal tersebut tidaklah mudah, membutuhkan banyak daya dan upaya. Tantangan terbesar justru berasal dari dalam perusahaan. Perjalanan menuju perusahaan berpakem process-centric membutuhkan juga komitmen dari semua pihak yangterlibat. Sekali tujuan tercapai, maka segudang benefit akan didapatkan.

Ada beberapa panduan yang bisa digunakan untuk mencapai perusahaan berbasis process-centric, antara lain:

  1. Ukur dan nilai kesiapan semua pemangku kepentingan (stake-holder) termasuk pemilik perusahaan terkait dengan transformasi pengelolaan perusahaan berbasis process-centric.
  2. Jalin komunikasi dengan semua pihak tentang visi BPM (Business Process Management) yang akan diterapkan oleh perusahaan.
  3. Buatlah model organisasi berdasarkan perspektif proses bisnis, tentukan proses inti dan pendukung.
  4. Tentukan pengukuran performa masing-masing proses bisnis.
  5. Tetapkan process persona yang terlibat, mulai Process Analyst, Process Developer, Business Administrator, Process Owner, dan Process Participant.
  6. Sosialisasikan tentang tahapan penerapan process-centric kepada stake-holder dengan mengadakan pelatihan maupun bentuk-bentuk lain.
  7. Implementasikan otomasi proses bisnis dimulai dari perencanaan hingga pengujian.
  8. Terapkan eksekusi otomasi proses bisnis mulai dari unit terkecil hingga melibatkan antar unit (cross functional). Pantau dan anaisis pelaksanaan otomasi proses bisnis.
  9. Lakukan perbaikan atau penyesuaian terhadap proses bisnis sesuai dengan perkembangan bisnis.

Process-Centric memudahkan perusahaan menjadiAgile

Perusahaan yang menerapkan process-centric dalam pengelolaan operasional bisnis akan lebih mudah menjadi Agile yang berarti menempatkan kepuasan pelanggan pada prioritas tertinggi, adaptif terhadap perubahan sebuah kondisi, kinerja yang efektif dan efisien, serta mampu untuk melakukan perbaikan secara terus menerus.

Apakah perusahaan Anda sudah menggunakan mekanisme process-centric?

(DE)